Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan

Jejak Sang Penjaga Rumah Imajinasi Anak-anak Bali

Minggu, Desember 07, 2014
Judul Buku             : Made Taro Mendongeng dan Bermain Sepanjang Waktu
Penulis                        : I Gusti Made Dwi Guna
Penerbit                  : Media Kreativa bekerja sama dengan Pustaka JBS Yogyakarta
Tahun                         : 2014
Jumlah Halaman       : 152 halaman

Sosok Made Taro dikenal sebagai pendongeng asal Bali yang terus berkiprah hingga kini. Meski usianya sudah memasuki 75 tahun, lelaki kelahiran Desa Sengkidu, Karangasem ini tidak terlihat melemah semangatnya mendongeng. Selain mendongeng secara lisan di berbagai kegiatan, Made Taro juga secara mandiri mengumpulkan dan menerbitkan dongeng-dongeng Bali maupun dongeng-dongeng dari berbagai daerah dan negara lain. Karena itu, amat wajar jika Made Taro mendapat Maestro Seni Tradisi Lisan dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2008 dan Anugerah Kebudayaan dari Presiden RI tahun 2009.

Meski memiliki kiprah yang monumental dalam menjaga rumah imajinasi anak-anak Bali, tak banyak yang mengenal kehidupan Made Taro secara mendalam. Itu sebabnya, kehadiran buku biografi Made Taro ini menjawab kerinduan banyak kalangan yang ingin tahu lebih intim sosok seorang Made Taro.

Buku yang ditulis I Gusti Made Dwi Guna terbilang cukup detail mengungkap jejak kehidupan Made Taro, terutama dari perspektif kiprahnya di dunia dongeng. Mulai dari sejarah nama Made Taro yang unik, perjuangan mendirikan Rumah Dongeng yang berkembang menjadi Sanggar Kukuruyuk hingga perjalanannya memperkenalkan kesenian cungklik di Australia.

Namun, tetap saja ada ruang kosong dari buku ini. Pahit getir pengalaman Made Taro menerbitkan sendiri buku-buku dongengnya –dengan biaya sendiri serta memasarkannya juga sendiri—luput dari amatan penulis buku ini. Padahal, justru bagian ini menjadi penting karena menunjukkan keikhlasan seorang Made Taro menjaga dunia dongeng. Tak hanya itu, mungkin karena lebih fokus pada dunia dongeng, biografi ini tidak memberi ruang pada jejak Made Taro di dunia sastra. Selain pendongeng, Made Taro juga seorang sastrawan Indonesia modern dan sastrawan Bali modern yang diakui kualitas karya-karyanya. Dia juga pernah menjadi redaktur cerpen di Bali Post Minggu.

Ruang-ruang kosong itu tentu sebuah kelemahan bagi buku ini. Namun, ruang-ruang kosong itu juga merupakan kesempatan bagi penulis lain untuk mengisinya dengan menulis kembali biografi seorang Made Taro yang lebih komperehensif. (*)

Inspirasi Perdamaian dari Kuta

Senin, Februari 28, 2011

Judul : Sepotong Nurani Kuta
(Catatan Seputar Sikap Warga Kuta dalam Tragedi 12 Oktober 2002)
Penulis : I Made Sujaya
Penerbit : LPM Kelurahan Kuta, 2004
Tebal : xxiii + 182 halaman

PERJALANAN panjang dan melelahkan pariwisata Kuta telah mencatat sejarah baru bagi pemuliaan harkat dan martabat manusia sejagat. Sejarah itu justru lahir setelah ledakan bom mahahebat mengguncang pusat pariwisata Kuta di Jalan Legian, 12 Oktober 2002 yang memakan 202 korban mati sia-sia.

Kidung perdamaian dengan semangat manyama braya mengalun dari pusat ledakan bom mewujud dalam bentuk kerja nyata. Heterogenitas komunitas telah membangun sumur peradaban sebagai wujud manusia berbudaya tanpa membedakan suku, agama, ras, dan antargolongan. Di sini nilai kemanusiaan sejati menjelma sebagai tontonan menarik yang mengangkat citra pariwisata Kuta khususnya dan Bali umumnya. Sungguh fenomena ini menjadi adegan yang mengagumkan bagi dunia internasional, di tengah duka mendalam yang berkecamuk di hati masyarakat Kuta. Inilah berkah kemanusiaan tertinggi di balik tragedi yang menyisakan kenangan manis dan humanistis sebagai wujud filsafat "untung" yang tanpa disadari telah menjelmakan Bali menjadi pusat perdamaian di awal abad ke-21.

Masih tersisanya kata "untung" adalah cermin belum padamnya nyala lilin kebijaksanaan di bumi Kuta, Bali. "Jangan biarkan lilin kebijaksanaan mati dalam kegelapan nafsu dan dosa. Manusia yang bijaksana bersama suluhnya senantiasa menerangi lorong-lorong kemanusiaan," kata Kahlil Gibran.

Kesan itulah yang tertangkap dari isi buku "Sepotong Nurani dari Kuta" karya I Made Sujaya. Dikemas dengan gaya bahasa jurnalitik dalam bentuk catatan perjalanan, buku ini berkabar kepada dunia tentang peristiwa seputar tragedi 12 Oktober 2002, yang melantakkan Sari Club dan Paddy's Cafe di Jalan Legian Kuta. Puing-puing kehancuran dipotret dengan bahasa yang segar untuk membangkitkan semangat di tengah kegalauan dengan sentuhan kemanusiaan universal. Dari sinilah lantas aliran air perdamaian disemaikan ke seantero dunia.


Catatan perjalanan ini memuat dua pokok bahasan besar yaitu sejarah perjalanan Kuta hingga kini melalui judul "Jejak-jejak Kuta" dan "Seputar Tragedi 12 Oktober 2002" dengan segala dampak ikutnya. Bagian pertama memuat sejarah Kuta sebagai daerah pariwisata yang diawali oleh rombongan Gajah Mada dari Jawa mendarat di Pasih Perahu diikuti pula oleh kedatangan Belanda yang disambut dengan penuh suka cita para nelayan. Dari sinilah pariwisata dimulai. Sementara itu, bagian kedua memuat seputar tragedi 12 Oktober 2002. Di luar itu, juga berisi sambutan Ketua LPM Kelurahan Kuta, Alas Kata dan Catatan Pembuka dari penulis buku dilengkapi pula dengan lampiran-lampiran pada bagian akhir.

Yang menarik, buku ini diawali dan diakhiri dengan puisi. Sebagai catatan pembuka Sujaya mengawali dengan puisi berjudul "Kuta" dan di bagian akhir ditutup dengan puisi karya I Wayan Suwija berjudul "Brahmastra". Puisi terakhir ini menjadi sejarah penting bagi pemuda Kuta karena telah menjadi "Sumpah Pemuda Kuta" saat perayaan Sumpah Pemuda ke-47, dua tahun silam di lokasi ledakan bom Jalan Legian. "Bali meringis/ Jagat raya menangis/ Tangan-tangan Dermawan mengulur/ Berharap engkau mujur/ Wenten pawisik/ Mangda mereresik/ Melinggih, mesila, metimpuh/ Rahayu Rahajeng kepanggih// Daksina dulang pekeling/ sami eling ....eling/ Arsa, kayun, meseriak galang/ Durus, durus, megalung" (hal. 171).

Puisi tersebut menarik karena mampu memotret tragedi kemanusiaan itu dari dua sudut pandang yang berlawanan sesuai dengan konsep rwabineda. Hal itu telah jelas menjadi kenyataan ketika evakuasi korban bom Kuta dilaksanakan. Semangat menyama braya dan solidaritas warga menjelma tanpa memandang etnik, agama, budaya. Respons positif seperti itu tak terlepas dari tebalnya rasa keimanan masyarakat Kuta membentengi diri sebagaimana dipuisikan oleh Sujaya di halaman 1. "Setiap detik memang pesta/ tapi setiap detak/ tetap upacara/ berputar-putar/ dengan bahasa semesta".

Jika diibaratkan novel, catatan perjalanan ini berklimaks saat santernya isu swepping terhadap penduduk pendatang oleh masyarakat Kuta. Isu yang bersifat memancing itu pun ditepis dengan tindakan kemanusiaan yang memperlihatkan sifat menyama braya yang kental antara kaum muslim di bawah komando Haji Bambang dan tokoh-tokoh Kuta. "Setiap orang yang sadar sebagai manusia, pasti memiliki nurani dan ingin membantu korban." (hal.66).

Pernyataan dan tindakan nyata para tokoh itu memperlihatkan adanya kedewasaan bersikap, kearifan ber-wiweka dan keinginan membangun citra positif terhadap dunia pariwisata Kuta. Inspirasi perjuangan tanpa kekerasan (ahimsa) yang digemakan Gandhi di India bergema pula di sini, di kaki pulau Bali. Begitu pula, gema kebijaksanaan penyair Libanon, Kahlil Gibran menemukan jiwanya, yaitu kedamaian. Pun kesenimanan Lotring yang menabuh kesadaran lewat gamelan telah bereinkarnasi di tanah kelahirannya dengan meminjam badan-badan para tokohnya untuk mengambil tindakan yang manis demi sebuah nilai hakiki kemanusiaan.

Mencermati fenomena itu, tepat benar lukisan Sujaya dalam lanjutan puisinya. "Biar liar benar/ tetap setia pada akar/ karena panas matahari/ tetap mengajari/ di sini masih ada matahari/ masih hidup katahati." Puisi yang ditulis pada 2001 itu seakan memberikan kekuatan bagi warga dalam menghadapi peristiwa getir saat bom meledak. Di sini disadari atau tidak, Tuhan hadir dengan tangan-tangan ajaib lewat para tokoh Kuta yang berhasil menetralisasi suasana sehingga orang-orang yang ingin mengambil keuntungan pribadi dengan melakukan penjarahan misalnya dapat ditekan. Tampilnya Kuta dengan semangat persaudaraan sejati menangani evakuasi korban, bukan berarti tidak ada gejolak yang terjadi di antara warga Kuta setelah tragedi. Gejolak itu misalnya muncul dalam bentuk wacana saling silang istilah antara Tragedi Legian dan Tragedi Kuta, keinginan membangun monumen di sekitar lokasi ledakan bom telah mengundang warga Kuta terbelah, tetapi tidak pecah. Begitu pun dengan beban moral warga Kuta seputar peringatan setahun tragedi kemanusiaan itu telah mengundang polemik antara warga dan sikap Pemda. Polemik itu berhasil diselesaikan secara manis bin humanis sebagai wujud manusia berbudaya dengan cahaya nurani yang memancarkan kedamaian.

Sekali pun begitu, catatan Sujaya ini tentu masih menyisakan ruang kosong. Misalnya, dampak tragedi itu terhadap pendidikan anak-anak Kuta, belum lagi wacana kembali ke pertanian yang sempat mencuat pascabom dari para pengambil keputusan yang terkesan menghibur untuk melupakan luka mahadalam yang bertahta di hati masyarakat. Itu belum terungkap. Sehubungan dengan itu, buku sejenis sepantasnya digarap dan ditradisikan oleh LPM Kuta sebagai bentuk penyeimbang pembangunan jasmani dan rohani. Kesehatan rohani masyarakat Kuta perlu dijaga untuk menampung dinamika pemikiran yang pernah hidup dan berkembang di sini. Di tanah kelahiran Wayan Lotring yang mendambakan keindahan muncul dari dalam diri. Dari diri pula damai itu disemaikan karena damai itu indah.

* i nyoman tingkat 
(Dikutip dari Bali Post Minggu Minggu Paing, 17 Oktober 2004)

Berguru ke Desa-desa Kuno di Bali

Sabtu, Februari 26, 2011

Judul : Perkawinan Terlarang: Pantangan
Berpoligami di Desa-desa Bali Kuno
Penulis : I Made Sujaya
Tebal : 98 halaman
Penerbit : Arti Foundation Denpasar
Tahun : September 2007

JIKA menelisik lebih jauh tentang perjalanan budaya Bali kini tak terlepas dari sejarah keruntuhan Majapahit yang menyebabkan tersingkirnya orang-orang Hindu Majapahit ke Bali mendesak orang-orang Bali Mula di desa-desa pegunungan. Manusia penghuni desadesa kuno di Bali nyatanya masih eksis hingga kini dengan budaya leluhurnya, walaupun zaman terus berubah.

Hal inilah menarik perhatian Sujaya untuk mengangkat kearifan desa kuno di Bali, yang menyimpan harta karun budaya yang pantas diketahui sebagai cermin bagi desa-desa modern di Bali agar tidak kebabalasan menerima pengaruh luar tanpa filter tradisi yang berfungsi sebagai penguat akar budaya.

Ditulis dengan gaya laporan jurnalistik, buku kedua Sujaya ini (buku pertamanya, Sepotong Nurani Kuta: Catatan Seputar Sikap Warga Kuta dalam Tragedi 12 Oktober 2002), mewartakan kepada masyarakat luas bahwa desa-desa kuno di Bali telah memiliki visi jauh ke depan dalam memaknai perkawinan. Dengan mengambil lima sampel desa kuno di Bali Timur (Tenganan Pegringsingan, Penglipuran, Bayung Gede, Bonyoh dan Umbalan), Sujaya menyimpulkan bahwa perkawinan terlarang yang dikukuhkan masyarakat adat tersebut memiliki alasan kuat, yaitu untuk menjaga tradisi warisan leluhur sekaligus melembagakan nilai-nilai moral agama berdasarkan mitos.


Dengan menggali tradisi, Sujaya mengajak pembaca menyelami kearifan desa kuno di Bali, khususnya dalam menentang poligami, yang disebutnya sebagai perkawinan terlarang. Bagi masyarakat Bali Kuno, poligami adalah tabu karena dapat merusak citra desa dan menyebabkan hubungan disharmonis. Oleh karena itulah, warga yang berani melakukan poligami, hak-haknya sebagai krama ngarep (warga utama) hilang dan sebagai bentuk hukuman moral yang bersangkutan ditempatkan di teben (hilir) desa yang disebut Karang Memadu sebagaimana diberlakukan di Desa Pernglipuran, Bangli.

Lain lagi dengan Desa Tenganan Pegringsingan, berpoligami pantang cerai pun dilarang. Hal ini diatur dalam awig-awig (peraturan adat di desa) Desa Tenganan Pegringsingan, yang mengikhtiarkan perkawinan monogami dan endogami. Perkawinan monogami adalah perkawinan yang dilakukan sekali dalam masa hidup, sedangkan perkawinan endogami adalah perkawinan yang dilakukan dengan sesama warga Tenganan Pegringsingan.

Kedua jenis perkawinan ini akan menentukan status seseorang sebagai krama ngarep yang berhak ikut sangkep (rapat) di Bale Agung dalam rangka mengambil keputusan untuk menentukan perjalanan desa ke depan. Dari sinilah, warga Tenganan Pegringsingan tampaknya memaknai perkawinan sebagai sesuatu yang sakral dan suci. Kesakralan dan kesucian itu adalah implementasi dari ajaran agama Hindu yang diimani masyarakatnya.

Oleh karena itulah, hukuman sekala-niskala akan diberlakukan bagi krama (warga) desa yang berani melanggar hukum perkawinan yang ditetapkan melalui awig-awig, sebagaimana juga diterapkan di Desa Bayung Gede, Kintamani. Pekarangan desa menjadi tempat yang terlarang bagi mereka yang berpoligami. Perkara poligami juga dilarang di Desa Bonyoh, Kintamani, Bangli. Bahkan, di Bonyoh, pantang bagi warganya kawin dengan warga Umbalan. Hubungan juang-kejuang (saling mengambil istri) ditabukan bagi masyarakat Desa Bonyoh dan Umbalan. Yang melanggar diyakini akan tertimpa bencana.

Pergeseran Nilai

Begitulah, desa-desa kuno di Bali yang disebut Bali Mula atau Bali Aga memegang teguh adat dan tradisinya. Akan tetapi, mereka tidak menutup diri dari kemajuan zaman. Buktinya, desa-desa itu menerima kehadiran wisatawan secara terbuka. Keterbukaan mereka, tidak membuat ternganga dan terlindasnya tradisi yang diyakini. Pergeseran nilai memang terjadi, tetapi akar budayanya masih tetap terjaga. Ibarat sebuah pohon, akarnya tetap, tetapi dahan, ranting, dan daunnyalah yang berubah dan berkembang.

Simpanan harta karun yang melimpah dari desa-desa kuno di Bali itu, bukan saja dalam hal pantangan berpoligami, melainkan juga di desadesa itu emansipasi wanita dilembagakan. Di sana suami-istri mendapat hak yang sama dalam hubungan waris. Berbeda dengan desa-desa lain di Bali, yang menempatkan laki-laki sebagai penguasa tunggal atas hak-hak waris. Oleh karena itulah, Bali modern perlu berguru ke desa-desa kuno di Bali Aga.

Memang harus pula diakui, kehadiran buku Sujaya ini juga masih menyisakan persoalan teknis dari segi tata tulis. Di samping itu, desa yang dijadikan sampel dalam laporan jurnalistik ini masih terbatas pada lima desa. Akan baik sekali, jika buku ini dikembangkan lagi untuk mengorek kearifan desa-desa kuno di Bali Utara dan Bali Barat. Siapa tahu, kekerabatan kultural di antara desa-desa kuno itu merupakan sekuntum bunga padma yang tumbuh mekar di sebuah taman yang bernama Bali.

Di tengah keterbatasan itu, Sujaya telah menawarkan alternatif ke arah pemurnian makna perkawinan, yang digali dari sumur dasar peradaban Bali Mula. Di tengah pemberitaan berbagai media tentang kawin-cerai, perselingkuhan dan keinginan sejumlah tokoh Bali yang berupaya melokalisasi PSK, maka cermin dari Bali Aga ini layak dipajang untuk melihat wajah kita (Bali) hari ini dan yang akan datang.

Oleh karena itu, buku ini layak dijadikan referensi oleh para pemuka adat dan pejabat dalam mengambil keputusan publik di Bali. Selain itu, para pemerhati, peneliti, dan siapa pun yang peduli akan budaya Bali, tampaknya perlu membaca buku ini untuk bekal menangkal Bali dari erosi budaya. (*)

* I Nyoman Tingkat (dikutip dari Bali Post Minggu, 18 November 2007, halaman 12)

Menjinakkan "Bom" dengan Nurani

Sabtu, Februari 26, 2011

Judul Buku : Sepotong Nurani Kuta Catatan Seputar Sikap Warga Kuta dalam Tragedi 12 Oktober 2002
Penulis        : I Made Sujaya
Penerbit      : Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kuta
Tahun          : Oktober 2004
Tebal           : xxiv + 200 halaman 

Setiap tanggal 12 Oktober, kita teringat peristiwa bom Bali. Tiap ingat bom Bali, kita terbayang Kuta. Bom Amrozy dkk. meledakkan Kuta, memang. Desa (atau kini menjadi kelurahan) yang menjadi pusat pariwisata Bali. Juga pusat pariwisata Indonesia. Sudah banyak tulisan yang membedah Kuta. Keindahan pantai dan ganas ombaknya, melahirkan berjilid-jilid buku. Juga sun set-nya yang magis itu. Masyarakat Kuta pun sudah banyak ditulis orang.Tapi, bagaimana Kuta kini? Bagaimana masyarakatnya? Siapa masyarakat Kuta sekarang? Seorang wartawan yang tengah berproses menjadi penyair, I Made Sujaya, melukiskan begitu puitis tentang itu.

biar liar benar
tetap setia pada akar
seperti kesetiaan
kecipak ombak
pada kanak-kanak
yang mengajak menari
meniru matahari
mengubah bayangan diri

Sajak berjudul ‘’Kuta’’ itu, ia muat kembali dalam buku yang ditulisnya yang bertitel Sepotong Nurani Kuta, Catatan Seputar Sikap Warga Kuta dalam Tragedi 12 Oktober 2002. Sebuah buku yang diterbitkan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kelurahan Kuta. Buku ini diluncurkan 10 Oktober 2004 di Kuta Paradiso Hotel, serangkaian peringatan dua tahun tragedi memilukan itu.

Sejak kapitalis mencengkram Kuta, orang mengira masyarakat Kuta sudah berubah. Bayangkan, sejak 1973, tanah-tanah kosong di pesisir Kuta diborong oleh pemodal-pemodal besar untuk membangun hotel berbintang, restoran dan fasilitas wisata lainnya. Hamparan kebun kelapa, semak-semak hingga danau disulap menjadi hotel-hotel mewah. Dibantu tangan-tangan kekuasaan, waktu itu, pengalihan lahan-lahan di Kuta berlangsung demikian cepat. Hingga 2001, tercatat 68 hotel berbintang, 232 hotel melati dan 75 homestay berdiri di Kuta. Kapitalis pariwisata telah mengubah Kuta. Desa kecil dengan luas wilayah 732 ha itu dipaksa menjadi metropolis. Tapi, benarkah Kuta telah berubah? Benarkah masyarakat ‘’kota wisata’’ itu telah kehilangan jati dirinya? Sujaya pada bait lain puisinya itu menulis:

setiap detik memang pesta
tapi setiap detak
tetap upacara
berputar-putar
dengan bahasa semesta
lena kelana
bukan lupa puja

Sebagai wartawan yang ngepos di Kuta (seperti yang dicantumkan di halaman 181 bukunya), tentu saja Sujaya mencatat tiap detik kehidupan Kuta. Mencatat detak masyarakatnya. Bukan hanya mencatat, ia tentu menggauli dan mendalami karakter masyarakat Kuta. Hasilnya, ia tumpahkan dalam buku ini. Singkatnya, di tengah gemuruh industrialisasi pariwisata, yang serbawah, serbapesta, serbadolar, Kuta masih punya satu hal penting: nurani.

Nurani itulah nilai masyarakat Kuta yang paling mahal. Nurani itu pula yang menyelamatkan Kuta dari ‘kehancuran’ lebih luas begitu bom Amrozy dkk. mengoyakkan Kuta, 12 Oktober 2002 lalu. Sujaya melukiskan dalam bukunya, bagaimana warga Kuta yang Hindu berbaur bersama warga muslim bekerja sama mengevakuasi para korban bom Bali. ‘’Saya terenyuh menyaksikan semua itu,’’ tulisnya. Padahal, di tengah petaka bom itu, isu-isu berseliweran (entah siapa yang menghembuskan), bahwa warga muslim di Kuta akan di-sweeping

Warga Kuta ternyata tak terpancing dengan isu-isu itu.Ya, nurani itu telah menyelamatkan Kuta dan Indonesia dari ‘’bom’’ lanjutan. Nurani itu telah menjinakkan ‘’bom’’ balas dendam, ‘’bom’’ permusuhan serta ‘’bom’ petaka kemanusiaan lainnya, seperti yang terjadi di Ambon atau Sampit. Warga Kuta ternyata punya cara sendiri menjinakkan ‘’bom-bom’’ itu.

di sini masih ada matahati
masih hidup katahati

Buku yang kabarnya akan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris atas permintaan warga Australia itu, tidak saja memuat catatan sikap warga Kuta terhadap tragedi bom Bali. Buku ini juga dilengkapi sejarah Kuta, dengan segenap riak kehidupan politik, sosial dan ekonomi di tiap zamannya. Disajikan dengan renyah, khas penyair yang wartawan alias wartawan yang penyair. Buku ini juga menyajikan fenomena kosmos menjelang terjadinya bom. Isyarat-isyarat alam yang menyelimuti Bali menjelang petaka.

Sayangnya, ada beberapa hal yang mengganggu dalam buku ini. Seperti dalam lampiran dimuat begitu banyak nama-nama warga Kuta yang masuk dalam panitia upacara pembersihan atau Karya Pemarisudha Karipubhaya. Selain itu, terdapat kesalahan penulisan nama-nama yang menjadi korban bom Bali. Hal yang sangat mengganggu lagi adalah dimuatnya puisi berjudul "Brahmastra" karya I Wayan Suwija di halaman 177.

Selebihnya, buku ini amat penting dibaca. Tidak saja oleh masyarakat Indonesia, tapi juga masyarakat Internasional. Bahwa masyarakat Kuta punya cara menyikapi bencana, yakni dengan nurani. Kuta masih punya matahati. Di sana masih hidup katahati. Sehingga petaka kemanusiaan bisa dijinakkan. (0)

* Yahya Umar (Redaktur DenPost Minggu)
 
Copyright © gubuk sujaya. Designed by OddThemes