Tampilkan postingan dengan label Proses Kreatif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Proses Kreatif. Tampilkan semua postingan

Jangan Takut Menulis

Sabtu, Februari 26, 2011

Menulis memang tidak mudah. Menulis betul-betul membutuhkan kerja keras. Menulis sungguh merupakan kerja berpeluh. Seorang penulis adalah orang yang memiliki semangat pantang menyerah. Seorang penulis adalah orang yang mau berproses. Mereka yang hanya ingin jalan pintas, tidak cocok menjadi penulis.

Walau begitu, jangan takut menulis. Menulis justru membutuhkan keberanian, selain pengetahuan yang cukup tentang sesuatu yang ditulis. Keberanian malah menjadi kunci bagi orang yang ingin menjadi penulis. Keberanian adalah modal awal dan utama dalam menulis.

Orang yang ingin menjadi penulis harus berani menulis. Berani menulis artinya berani dan mau belajar menempuh proses berpeluh untuk menghasilkan tulisan. Belajar menulis, seperti lazimnya orang belajar keterampilan yang lain, tentu tidak sekali langsung berhasil. Perlu berkali-kali latihan. Jalan pintas belajar menulis hanya satu: berlatih, berlatih, berlatih, berlatih dan berlatih. Tidak ada yang lain. 

Seorang penulis juga adalah orang yang berani untuk tampil. Seorang penulis berani tampil dengan gagasannya, berani tampil dengan pendapatnya yang mungkin berbeda dengan pandangan orang pada umumnya. 

Justru, seorang penulis penting memiliki pendapat atau gagasan yang berbeda dengan pandangan umum. Gagasan yang kontroversial adalah gagasan yang menjual. 

Kalau pun tidak kontroversial, cukup penting bagi seorang penulis memiliki gagasan yang segar, gagasan yang baru. Karena menulis adalah kerja kreatif. Kerja kreatif dicirikan dengan inovasi, sesuatu yang baru. 

Agar keberanian menampilkan gagasan itu semakin kuat, seorang penulis mesti mengeksplorasi gagasannya agar semakin kokoh. Artinya, seorang penulis mesti menguasai apa yang ditulisnya. Tidak perlu menjadi pakar, tetapi seorang penulis patut mengenali masalah yang ditulis. 

Kini tidak sulit untuk melakukan penelitian kecil-kecilan untuk memperkaya gagasan yang ditulis. Selain membaca buku-buku atau kliping koran dan majalah, seorang penulis juga bisa menelusuri fakta dan informasi yang berkaitan dengan masalah yang ditulis di internet. Dunia maya sungguh merupakan ruang belajar yang sangat kaya. 

Bagaimana jika gagasan seorang penulis ditanggapi orang lan? Justru inilah yang diharapkan seorang penulis. Gagasannya bersambut. Ada respons dari pembaca. Memang, respons itu beragam. Ada yang mendukung, ada pula yang menentang. Ada yang mendukung, ada pula yang membantah. Menghadapi hal semacam ini, seorang penulis tak mesti gundah. Keragaman gagasan adalah sebuah keniscayaan. Karena itu, gagasan penulis yang berbeda dengan gagasan orang lain tak mesti dijemput dengan kekhawatiran. 

Yang menentukan kualitas sebuah gagasan adalah argumentasi. Karena itu, seorang penulis akan berjuang untuk memperkuat argumentasinya. Itu artinya, eksplorasi atas gagasan mesti terus dilakukan hingga tulisan dilahirkan. 

Karena itu, jangan takut menulis! (0)

Menulis Itu Perjuangan!

Sabtu, Februari 26, 2011

Banyak buku panduan menulis menguraikan bahwa menulis itu gampang. Karena gampang, siapa pun bisa menulis, semua orang bisa menjadi penulis. Aneka tips pun disodorkan kepada mereka yang ingin belajar menulis. Tips-tips itu, konon, membuat orang lebih mudah, lebih praktis bahkan lebih cepat menjadi penulis.

Namun, ada seorang guru di sebuah sekolah menengah pertama yang mengeluh kepada saya perihal cara menulis yang praktis, mudah dan cepat itu. Sang guru mengaku sudah melahap banyak buku panduan menulis. Dia juga sudah mencoba menerapkan berbagai tips yang ditawarkan. Tapi hasilnya, menulis tetap menjadi hal yang sulit. Jangankan menghasilkan sebuah tulisan yang layak jual, menulis tiga paragraf saja terasa berat sekali.

Mendengar keluhan guru tadi, saya teringat tulisan Putu Wijaya yang dimuat dalam salah satu buku kumpulan esainya. Judul tulisan itu, "Mengarang adalah Berjuang". Putu Wijaya menemukan ungkapan itu manakala dia menyadari menulis memang tidak menjadi perkara gampang bagi semua orang. Tatkala memberi pelatihan menulis bagi guru-guru di Jakarta, Putu Wijaya menemukan realitas yang bertolak belakang dengan ungkapan menulis itu gampang.

Memang, bagi yang sudah terbiasa, menulis bisa sangat gampang. Putu Wijaya misalnya bisa begitu sangat melimpah dengan tulisan. Begitu juga Arswendo Atmowiloto begitu mudahnya melahirkan beratus-ratus tulisan.

Akan tetapi, bagi mereka yang tidak biasa menulis, tentu menjadi sangat berat untuk menghasilkan sebuah karya tulis. Orang bisa berjam-jam duduk di depan komputer tetapi layar tetap putih, kosong.

Saya rasa ungkapan Putu Wijaya bahwa mengarang (termasuk tentunya menulis) merupakan sebuah perjuangan. Artinya, seseorang melahirkan sebuah tulisan memang memerlukan perjuangan yang berat, melelahkan dan terkadang butuh waktu yang lama.

Analogi yang lazim dikemukakan para penulis mengenai aktivitas menulis --dan saya kira tepat benar-- orang menulis itu seperti orang melahirkan. Ketika gagasan begitu meledak-ledak, melesak-lesak hendak dilahirkan, mesti melalui sebuah proses yang berat yang membuat orang yang mengeram gagasan itu kesakitan luar biasa. Tapi, begitu gagasan itu tersalurkan lewat tulisan, perasaan pun menjadi plong, lapang kembali. Rasa sakit tak muncul lagi sampai proses melahirkan gagasan kembali terjadi.

Artinya, menulis adalah sebuah proses kreatif, sebuah proses intelektual. Karena itu, tidak ada jalan pintas. Ibarat orang menaiki tangga, mesti rela menapaki satu demi satu tangga itu. Orang tidak mungkin meloncat dari tangga pertama ke tangga sepuluh. Jalan pintas dalam menulis hanya satu: jangan pernah berhenti belajar menulis, jangan pernah berhenti berlatih. Semakin sering berlatih, semakin mudah menulis itu.

Menulis sebagai sebuah perjuangan juga bermakna proses memperjuangkan gagasan, proses mempengaruhi orang. Artinya, menulis harus dilandasi sebuah tujuan intelektual yakni mencerdaskan dan membangunkan kesadaran masyarakat.

Sederhananya, karena menulis adalah perjuangan maka mulailah dengan langkah-langkah kecil. Mulailah menulis hal-hal kecil, hal-hal yang dekat dengan diri kita. Setelah hal-hal kecil itu bisa dikuasai, silahkan mulai mengamati lingkungan sekitar, respons segala fenomena dan dinamika itu dengan tulisan.

Mari berjuang untuk menulis! Karena perjuangan membutuhkan keberanian, maka jangan pernah takut untuk menulis! (0)
 
Copyright © gubuk sujaya. Designed by OddThemes