Tampilkan postingan dengan label Percikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Percikan. Tampilkan semua postingan

BNI, Bank Para Cendekia

Selasa, Mei 31, 2016
Banyak bank umum nasional dengan tawaran produk menarik, memang. Tak sedikit pula lembaga keuangan yang memiliki pelayanan berkelas hingga membuat nasabahnya bak raja. Tapi, saya memilih bersetia pada Bank Nasional Indonesia (BNI) 1946. Dan, Pengalaman Bersama BNI itu sudah mencapai 14 tahun. 

Ya, 14 tahun sudah saya menjadi nasabah Taplus BNI. Saya nyaris lupa berapa kali sudah berganti buku tabungan. Saya pun hampir tak ingat, berapa kali sudah mengganti kartu ATM BNI. 


Buku tabungan BNI Taplus dan ATM BNI yang saya miliki.
Namun, saya sedikit ingat, perjumpaan saya dengan BNI terjadi sekitar tahun 2002, dua tahun menjelang tamat dari bangku kuliah di Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Udayana. Bermula dari pengalaman membayar SPP kuliah saban semester melalui BNI, akhirnya saya memutuskan membuka rekening BNI saja. Kala tiba waktu membayar SPP, saya tinggal debet saja. 

Itulah kali pertama saya memiliki rekening di bank umum nasional. Sebelumnya, saya hanya memiliki rekening bank lokal. Maklum, kala itu kekhawatiran terhadap kebangkrutan sebuah bank seperti pernah terjadi kala krisis ekonomi tahun 1997 membiakkan trauma pada diri saya. Pilihan terhadap BNI pun dibayang-bayangi kekhawatiran semacam itu. Tapi, dalam pikiran saya saat itu, BNI relatif aman karena termasuk bank milik pemerintah. 

Ternyata, pilihan terhadap BNI tidak keliru. Malah, pada tahun-tahun kemudian, rekening BNI yang saya miliki menjelma berkah. Manakala melanjutkan kuliah S2 di Program Studi Magister Ilmu Linguistik Konsentrasi Wacana Sastra di Pascasarjana Universitas Udayana tahun 2008, rekening BNI saya benar-benar fungsional. Segala pembayaran SPP dan biaya perkuliahan di kampus ternyata melalui BNI. Tentu saja semua urusan pembayaran kuliah jadi kian mudah, makin cepat. 

Selain itu, kemudahan menjangkau kantor cabang dan ATM menjadi asalan saya memilih BNI. Tahun 2002, saya indekos di Jalan Kebo Iwa. Kala itu, BNI memiliki kantor cabang di Jalan Buluh Indah. ATM-nya juga banyak tersedia di kawasan Jalan Gatot Subroto Barat. 

Tak hanya itu, rekening BNI juga memiliki arti penting manakala saya menerima beasiswa Kajian Tradisi Lisan (KTL) dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional pada tahun kedua kuliah S2. Transfer dana beasiswa juga dilakukan melalui rekening BNI. 

Bukan hanya saya yang bersetia pada BNI, ternyata. Banyak teman sesama dosen, baik di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS), juga sejak lama memiliki rekening BNI. Sebagian besar teman dosen di PTN memiliki rekening BNI karena gaji dan tunjangan mereka ditransfer melalui BNI. Sementara banyak teman dosen di PTS yang memiliki rekening BNI karena menerima tunjangan sertifikasi dosen dari pemerintah melalui BNI. 

"Kalau jadi dosen, ya, harus punya rekening BNI. Rekening BNI itu ibarat pundi wajib bagi dosen," kata Ida Ayu Agung Ekasriadi, salah seorang teman dosen di IKIP PGRI Bali. 

Saya pun mengalami hal itu pada tahun 2016 ini, manakala mulai menerima tunjangan sertifikasi dosen. Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah VIII mensyaratkan kepemilikan rekening BNI bagi penerima tunjangan sertifikasi dosen. Ini rasa syukur berikutnya dari saya atas perjalanan panjang bersama BNI. 

Dana hibah penelitian yang kerap diperebutkan para dosen pun lebih sering disalurkan melalui BNI. Itu sebabnya, banyak dosen yang lebih memiliki rekening BNI. Teman-teman saya sesama dosen di IKIP PGRI Bali, sebagian besar memiliki rekening BNI. 

Para mahasiswa yang saya ajar pun tak sedikit yang memiliki rekening BNI tinimbang rekening bank lain. Alasannya tak jauh berbeda dengan saya: aktivitas pembayaran perkuliahan lebih sering melalui rekening BNI. Banyak lembaga pendidikan tinggi yang menjadikan BNI sebagai bank mitra untuk melayani pembayaran biaya pendidikan mahasiswanya. 

Tahun 2016 ini, saya juga mulai menempuh pendidikan S3 di Program Studi Doktor Linguistik, Konsentrasi Wacana Sastra di Pascasarjana Universitas Udayana. Biaya pendaftaran, SPP dan biaya-biaya lain juga dilayani melalui BNI. Lagi-lagi ini membuktikan pilihan menjadi nasabah BNI adalah pilihan tepat bagi mereka yang sedang menempuh pendidikan. 

Itu sebabnya, tampaknya tak keliru jika saya sebut BNI sebagai "bank para cendekia", "bank orang-orang terpelajar", "bank kaum terdidik". Mereka yang sedang menempuh pendidikan, menjadi pendidik maupun tenaga kependidikan umumnya menjadi nasabah BNI. 

Produk-produk BNI juga dekat dengan bidang pendidikan. Tappenas BNI misalnya, cocok digunakan untuk menyiapkan tabungan pendidikan anak-anak. Belakangan ada Simpel (Simpanan Pelajar) yang menjadi program wajib bagi bank-bank nasional untuk mensosialisasikan kegiatan menabung bagi anak-anak sekolah. BNI juga memiliki Taplus Anak dan Taplus Muda yang memiliki sejumlah keunikan tersendiri dibandingkan produk-produk lainnya. Dalam layanan kredit, BNI juga memiliki kredit khusus biaya pendidikan. Namanya BNI Cerdas. 

Bukan hanya itu. BNI juga seringkali memanjakan nasabahnya melalui hadiah maupun promo pada momen tertentu. Menariknya, promo itu sangat dekat dengan kalangan terdidik. Rasa syukur saya bertambah sebagai nasabah BNI karena bank ini memberikan promo diskon 10% saat berbelanja buku di Toko Buku Gramedia menggunakan kartu debit BNI. Saya tergolong doyan berbelanja buku di Gramedia. Yang paling menggembirakan saat peringatan Hari Buku Nasional, 17 Mei 2016 lalu. Saya menerima pesan pendek (SMS) mengenai promo diskon 30% bagi pengguna kartu kredit atau debit BNI di Toko Buku Gramedia. Tepat di hari terakhir diskon, 19 Mei 2016, saya pun menyambangi Gramedia menuntaskan rencana membeli sejumlah buku untuk saya dan anak. Seharusnya saya membayar buku itu dengan harga total Rp 249.000, tapi karena menggunakan kartu debit BNI, saya hanya membaya Rp 174.500. Penghematan dari BNI yang patut disyukuri, tentu saja.  

Buku-buku yang saya beli di Gramedia dan bukti struk pembayaran via debet kartu Debit BNI
Lantaran berbagai keuntungan itu, kini saya sedang bersiap mengajukan aplikasi BNI Tappenas atau BNI Taplus Anak untuk kedua anak saya. Saya yakin di masa depan, biaya pendidikan akan makin mahal dan BNI bisa dijadikan sahabat tepat untuk merencanakan biaya pendidikan kedua anak saya. 

Kepercayaan kalangan terdidik Indonesia terhadap BNI 46 tampaknya tak lepas dari sejarah panjang BNI yang tahun ini memasuki usia 70 tahun: #70TahunBNI. Di mata nasabah, rekam jejak yang panjang tentu menjadi pertimbangan. Terlebih lagi BNI merupakan bank umum nasional pertama yang dimiliki pemerintah. Bahkan, hari kelahiran BNI pada 5 Juli 1946 diperingati sebagai Hari Bank Nasional. Unsur sejarah dan dukungan pemerintah tentu saja membuat para kaum cerdik-cendekia yakin menjadikan BNI sebagai sahabat mereka. 

Fakta tentang nasabah kaum cendekia, terpelajar atau terdidik selayaknya dibaca BNI sebagai keunggulan komparatif yang harus dipertahankan. BNI mesti menjaga kepercayaan para nasabah dari kelompok menengah ini. Caranya, mengintensifkan produk-produk khusus bagi kalangan pelajar, mahasiswa, guru, dosen maupun tenaga kependidikan. Jika itu dilakukan, BNI akan mengukuhkan citranya sebagai Bank Para Cendekia, Bank Kaum Terpelajar, Bank Golongan Terdidik. 

Selamat hari jadi ke-70 BNI 46. Jangan pernah lelah memberi yang terbaik pada Indonesia!


Cerdas Siapkan Dana Pendidikan Anak

Minggu, April 28, 2013
Biaya pendidikan di Indonesia senantiasa meningkat setiap saat. Itu sebabnya, dibutuhkan upaya yang terencana untuk menyiapkan biaya pendidikan anak-anak. Bagaimana menyiapkan biaya pendidikan anak Anda agar ketika si anak memasuki usia sekolah, Anda tidak terlalu terbebani? Berikut tipsnya.

1. Siapkan Anggaran Pendidikan Sedini Mungkin
Anda sebaiknya tidak menunda menyiapkan dana pendidikan  anak Anda. Begitu si kecil sudah memasuki usia 1 tahun, sebaiknya Anda sudah meyiapkan anggaran tabungan pendidikan anak Anda. Pasalnya, tiga tahun kemudian, pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) sudah menunggu anak Anda. Jika Anda sudah mulai merancang biaya pendidikan anak Anda sejak dini, Anda akan memiliki cukup waktu untuk dan cukup dana dalam tabungan untuk kepentingan biaya pendidikan anak Anda.

(Repro)


2. Pisahkan Anggaran Pendidikan dengan Anggaran Lain
Anggaran pendidikan anak Anda haruslah dibuat khusus, terpisah dengan pos anggaran lain. Anda pun harus disiplin, jangan tergoda untuk memanfaatkan dana pendidikan anak untuk kepentingan lain di luar kebutuhan pendidikan anak. Jika Anda memiliki anak lebih dari satu, maka sebaiknya anggaran pendidikan dipisah untuk masing-masing anak.

3. Buat Prediksi tapi Realistis
Anda disarankan membuat prediksi mengenai kebutuhan biaya pendidikan anak Anda. Biasanya, biaya pendidikan meningkat rata-rata 10-20% per tahun. Anda bisa menjadikan biaya pendidikan saat ini sebagai patokan dengan memperhitungkan kemugkinan kenaikan 20-30% saat dana itu dibutuhkan. Anda mesti membuat prediksi lebih tinggi untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk terjadinya peningkatan biaya pendidikan di luar prediksi Anda. Kendati begitu, Anda juga tetap harus realistis. Anda jangan terlalu memaksakan diri menyekolahkan anak di sekolah favorit jika memang kemampuan Anda terbatas. Penyisihan dana pendidikan tidak boleh sampai membuat Anda kelaparan.

4. Proporsi Ideal Penyisihan Dana
Idealnya, Anda bisa menyisihkan 20% dari penghasilan Anda dan istri Anda setiap bulan untuk ditabung. Mengapa mesti 20%? Rinciannya: 5% untuk arus kas keuangan keluarga (misalnya, untuk biaya pengobatan anak ketika sakit); 10% untuk tabungan jangka panjang (dana pendidikan, renovasi rumah dan lainnya); serta 5% untuk investasi.

5. Buat Skala Prioritas Kebutuhan
Membuat skala prioritas kebutuhan sangat penting artinya jika kebutuhan hidup Anda sangat banyak dan kemampuan Anda terbatas. Kebutuhan yang bersifat tambahan, bisa Anda sisihkan dulu agar Anda tetap bisa menyisihkan dana pendidikan untuk anak Anda.

6. Memilih Program Penyimpan Dana Pendidikan yang Tepat.

Ada berbagai program penyimpanan dana pendidikan yang ditawarkan berbagai lembaga keuangan. Ada yang berupa tabungan pendidikan atau pun asuransi. Anda perlu mempelajari berbagai produk itu dan pilih yang benar-benar tepat bagi kebutuhan Anda. Produk yang dipilih bisa dalam bentuk tabungan, asuransi atau pun investasi reksa dana. (*)

Membaca Dahulu, Mengarang Kemudian

Selasa, Maret 08, 2011

Catatan I Made Sujaya

KEGELISAHAN
soal guru mata ajar bahasa dan sastra Indonesia sejatinya bukanlah hal yang baru. Keluhan ini sudah sejak lama mengada, tak hanya karena sangat sedikit dari guru mata ajar ini yang tidak suka menulis, juga tidak memiliki minat yang menggembirakan dalam dunia sastra. Kenyataannya, pola ajar mereka lebih terpusat kepada masalah tata bahasa, sementara sastra yang lebih memberi peluang untuk memantik rasa, batin dan nurani agak terabaikan. Kondisi inilah kemudian melahirkan pemikiran untuk memisahkan saja mata ajar bahasa dan sastra, sehingga kedua bidang ini mendapat perhatian yang seimbang dan proporsional.
Pemisahan bidang dalam mata ajar bahasa dan sastra Indonesia memang tak sampai menjadi kenyataan. Namun, salah satu harapan soal pelajaran mengarang sedikit diakomodasi. Ujian mengarang kini telah menjadi salah satu kewajiban penting yang mesti ditempuh siswa.
Namun, dari diskusi seputar pelajaran mengarang yang tergelar di halaman ini sama sekali belum menyentuh budaya membaca. Padahal, membaca merupakan faktor amat penting bagi sebuah keterampilan mengarang atau menulis. Meminjam istilah Taufik Ismail, membaca dan mengarang atau menulis merupakan ‘’kakak-adik kandung yang tak terpisahkan’’.
Bila memang ingin menumbuhkan budaya mengarang di kalangan siswa, maka mulailah dengan memupuk kebiasaan mereka membaca. Amatlah mustahil, seorang siswa diharapkan bisa mengarang hebat sementara dia tak pernah membaca. Lantaran, dari membacalah siswa bisa menggali banyak bahan yang bisa ditulisnya. Pengalaman empiris yang diselaminya lebih bersifat memberi ‘’jiwa’’ tulisan atau karangannya itu.
Sampai di sini, mau tidak mau kita mesti menengok kondisi budaya membaca di kalangan bangsa kita, khususnya di kalangan pelajar. Untuk mendapatkan gambaran kondisi budaya baca itu, menarik untuk melihat perbandingan data yang dipaparkan Taufik Ismail dalam makalahnya berjudul ‘’Dari Kupu-kupu di dalam Buku, sampai Menanam Bibit Hutan Jati’’ yang disampaikan dalam Prakongres Kebudyaan V di Denpasar 28-30 April lalu.
Di Amerika Serikat (AS), disebutkan Taufik, rata-rata tamatan SMU membaca 32 judul buku sastra. Di Malaysia, seorang siswa SMU sebelum tamat wajib membaca 12 novel, 18 cerita pendek, 8 drama, 18 puisi modern, dan 18 puisi tradisional. Dibandingkan dengan siswa kedua negara itu (dengan syarat serupa yaitu buku sastra itu disebut di kurikulum, disediakan di perpustakaan, siswa menulis mengenai buku itu dan akhirnya diujikan), maka menurut Taufik tamatan SMU di negeri kita membaca nol buku.
Mungkin, gambaran data yang ditampilkan Taufik terlalu skeptis. Namun, kita memang tidak sepenuhnya bisa membantah betapa kuantitas buku-buku sastra yang dibaca siswa kita masih sangat jauh dibandingkan kedua negara yang dicontohkan itu. Memang, siswa SMU di Indonesia memiliki pengetahuan sastra. Mereka mengenal beberapa keping puisi-puisi Chairil Anwar, tahu alur dan jalan cerita novel Siti Nurbaya atau dengan fasih bisa menyebutkan termasuk angkatan berapa pengarang Sutan takdir Alisjahbana. Namun, bila kita hendak bertanya sejauh mana mereka diberikan kesempatan untuk menikmati, membaca secara utuh novel atau buku puisi, kita mesti rela menelan kekecewaan. Yang diajarkan selama ini adalah pengetahuan sastra, bukan memberikan ruang kepada siswa untuk menikmati dan menyelami sebuah karya sastra secara utuh. Sementara hakikat karya sastra adalah menyucikan batin manusia sehingga dia bisa menyelami alam kemanusiaannya yang paling dasar.
Maka, tidaklah keliru ketika muncul kasus mahasiswa jurusan Sastra Indonesia yang belum pernah sekali pun membaca sebuah buku novel secara utuh. Dia hanya tahu jalan cerita Belenggu, tahu tokoh-okohnya karena ketika gurunya menyuruh membuat sinopsis, dia tinggal menjiplak sinopsis kakak-kakak kelasnya. Kondisi ini berimplikasi serius ketika sang mahasiswa itu menyusun proposal penelitian untuk skripsi. Karena tak pernah bergaul dengan karya-karya sastra, mereka jadi gugup dan akhirnya gagap. Membaca sebuah novel yang bakal dijadikan objek penelitian, dia malah kebingungan, tak menemukan masalah sama sekali.
Karena itu, sekali lagi, bila memang guru ingin menumbuhkan keterampilan mengarang aau menulis siswa, apalagi kini sudah menjadi bagian penting yang wajib dimiliki siswa, seyogyanya guru mendorong agar siswa gemar membaca dulu, terutama karya sastra. Janganlah dulu berpikir ingin menyamai jumlah buku yang wajib dibaca di AS dan Malaysia, mungkin kita bisa memakai ukuran siswa diwajibkan dalam tiap semester membaca satu novel, tiga buah puisi modern, dua buah puisi tradisional, satu buah drama dan dua buah cerpen. Bacaan wajib itu kemudian diujikan secara proporsional untuk menumbuhkan wawasan sastra siswa.
Upaya semacam itu memang akan berhadapan dengan kondisi perpustakaan sekolah yang masih belum representatif terutama di sekolah-sekolah pinggiran. Kendala itu bisa ditanggulangi dengan menempuh cara mewajibkan siswa yang akan tamat untuk menyumbangkan sebuah novel, sebuah buku kumpulan puisi, buku kumpulan cerpen atau pun buku drama. Dengan begitu, setiap tahun perpustakaan sekolah akan memiliki tambahan koleksi.
Bila pun upaya itu masih sulit dilakukan, bisa ditempuh dengan cara yang amat minimal. Saya memakai ilustrasi pengalaman saya sendiri ketika masih duduk di bangku SLTP. Saya masih ingat betul, guru bahasa dan sastra Indonesia di sekolah saya (SLTP 1 Dawan, Klungkung) mewajibkan seluruh siswa untuk minimal meminjam sebuah buku di perpustakaan dalam tiap semester. Bagi yang tidak memenuhi kewajiban ini, saat penerimaan raport terpaksa raportnya ditahan dulu, sementara yang paling banyak meminjam buku diberikan hadiah.
Saya tak tahu, apakah ‘’gerakan’’ itu masih dilanjutkan kini di sekolah saya atau tidak. Namun, agaknya langkah terakhir ini tidak terlalu sulit dilaksanakan. Bila ingin memperkuat motivasi siswa agar mereka meminjam buku tak sekadar memenuhi kewajiban, barangkali bisa dirangsang dengan kewajiban mereka untuk meresensi buku yang dipinjamnya. Resensi mereka itu kemudian dinilai dan pada saat pembagian raport resensi terbaik diumumkan dan diberikan hadiah khusus.
Intinya, memang harus ada inovasi dari guru bahasa dan sastra Indonesia sendiri untuk mendekatkan siswa dengan budaya membaca. Lebih penting dari semua itu adalah komitmen diri. Jika sudah punya komitmen dan inovatif, kendala apa yang menghadang misalnya masalah tuntutan kurikulum bisa disiasati. Bukankah kurikulum sendiri menganjurkan guru untuk berkreasi dan berinovasi?

Berjuang Sendiri Menerbitkan Buku

Sabtu, Februari 26, 2011

Sejumlah penulis atau pun intelektual di Bali belakangan menerbitkan sendiri karya tulisnya menjadi buku. Minimnya penerbit buku di Bali merupakan salah satu penyebab munculnya penerbitan buku secara swadaya itu. Ada usulan pembentukan seka arisan bikin buku.

Pengarang sekaligus pemilik percetakan, Gde Aryantha Soethama punya penilaian menarik soal perilaku orang Bali dalam pengadaan penggandaan teks. Menurutnya, orang Bali banyak yang menulis lontar atas keinginan sendiri. Kebanyakan mereka hanya menulis karyanya itu hanya satu lontar. Umumnya orang Bali dikenal “malas” memperbanyak lontar. Padahal isinya kemudian diketahui luar biasa, amat penting dan bermanfaat.

“Keengganan leluhur Bali menggandakan karya-karya cemerlang mereka itu ternyata terwariskan hingga kini, tatkala industri perbukuan tumbuh dan berbiak gesit,” ujar Aryantha.



Memang, belakangan cukup banyak ditemukan perilaku pengarang atau intelektual Bali yang menerbitkan sendiri karya-karyanya atas insiatif sendiri, pakai uang sendiri. Umumnya, tiras buku yang diterbitkan hanya puluhan atau ratusan eksemplar.

Apa yang diungkapkan Aryantha tidaklah keliru. Prof. Dr. I Nyoman Weda Kusuma, M.S., misalnya menerbitkan disertasinya menjadi buku dengan biaya sendiri. “Saya habis biaya sekitar Rp 7 juta,” cerita Weda yang menerbitkan buku berjudul, Kakawin Usana Bali Karya Danghyang Nirartha.

Kisah serupa tampaknya juga dialami sejumlah guru besar Unud lainnya seperti Prof. Dr. Dewa Ngurah Suprapta yang menerbitkan buku Pertanian Bali Dipuja Petaniku Merana, Prof. Tjok. Istri Putra Astiti yang meluncurkan buku berjudul Pemberdayaan Awig-awig Menuju Ajeg Bali serta Prof. I Made Nitis yang baru-baru ini merilis buku berjudul, Peternakan Berwawasan Kebudayaan.

Buku-buku mereka memang diterbitkan oleh penerbit tertentu yang ada di Bali. Akan tetapi, kenyataannya si penulis atau pengarang mesti merogoh koceknya agar bukunya bisa terbit.

“Di Bali memang berbeda dengan Yogya. Kalau di Bali kita menerbitkan buku mesti mengeluarkan uang kepada penerbit, kalau di Yogya malah kita yang dapat duit,” kata I Ngurah Suryawan, mahasiswa Antropologi Unud yang beberapa kali menerbitkan buku-bukunya di Yogya.

Dinamika penerbitan buku di Bali memang kalah jauh ketimbang Yogya atau Bandung. Di Yogya, penggiat industri perbukuan bisa dijumpai di tempat-tempat kos, digerakkan oleh anak-anak muda. Mereka melakoninya sendiri-sendiri atau berkelompok. Banyak buku baru bisa dijumpai, banyak penerbit baru muncul, banyak pula akhirnya gulung tikjar, namun akan segera tumbuh lagi yang baru. Kondisi ini tentu memberikan banyak pengalaman dan manfaat yang bisa dipetik.

Menyiasati kondisi industri perbukuan di Bali yang belum sehangat Yogya itu, Aryantha melontarkan usul menarik: membentuk sekaa arisan bikin buku yang disingkat menjadi Seribu. Menurut dia, orang bali biasanya melakukan kegiatan adat dan keagamaan melalui kelompok. Bali dikenal memiliki dinamika kelompok dalam bentuk sekaa. Banyak program pembangunan menuai sukses besar setelah digarap sekaa dalam dinamika banjar.

“Mengapa penerbitan buku tidak dicoba lewat dinamika sekaa?” tanya Aryantha.

Nama Seribu yang diusulkan Aryantha bukan tanpa pertimbangan. Sekaa ini bakal menerbitkan buku dengan tiras minimal 1.000 eksemplar sekali terbit.

Anggota sekaa, kata dia, jangan terlalu banyakm cukup 5 sampai enam orang. Merekalah yang mengurus mulai dari naskah, pracetak, membawanya ke percetakan hingga pemasaran.

Spesifikasi buku yang hendak diterbitkan disarankan dengan ukuran 14 X 20 cm, kertas HVS 70 gram, sampul art paper 230 gram full color, halaman dibatasi sampai 120 halaman. Dengan spesifikasi buku seperti itu, per eksemplar bisa menelan biaya Rp 6.000. Jika mencetak 1.000 eksemplar tentu menghabiskan biaya Rp 6.000.000.

“Jika satu putaran arisan selama setahun, setiap dua bulan sekali diterbitkan satu judul buku. Untuk itu, uang yang harus dikeluarkan setiap anggota sekaa setiap dua bulan sekali adalah Rp 1.000.000 atau Rp 500.000 setiap bulan,” beber Aryantha.

Lantas, bagaimana jika halaman buku yang dicetak melebihi 120 halaman serta pengarangnya ingin mencetak lebih dari 1.000 eksemplar? Tentu butuh tambahan biaya dan itu mesti ditanggung pengarangnya sendiri. Sekaa hanya membiayai untuk 120 halaman dengan tiras 1.000 eksemplar.

Setelah terbit, buku pun dijual. Dengan tebal 120 halaman, buku itu bisa layak dijual dengan harga Rp 20.000-Rp 25.000 per buku. Toko buku biasanya akan meminta bagian 30 persen dari harga buku. Jika harga jual Rp 20.000, pengarang tentu menerima 70 persen = Rp 14.000/ buku. Ini berarti, untuk mencapai titik pulang modal sebesar Rp 6.000.000, buku yang harus laku adalah sekitar 429 eksemplar. Sisanya 571 eksemplar merupakan keuntungan pengarang.

“Jika buku dijual langsung oleh pengarangnya, tidak melalui toko buku, uang yang diterima utuh Rp 20.000/buku. Untuk mencapai pulang modal menjadi lebih cepat, hanya menjual 300 eksemplar buku. Sisanya, 700 eksemplar menjadi keuntungan pengarang,” urai Aryantha.

Jika semuanya berjalan lancar, usulan Aryantha memang menggiurkan. Namun, persoalannya, mungkikah bisa menjual buku 300 atau 429 eksemplar dalam waktu setahun? “Itu tergantung kiat pemasaran pengarang sendiri,” katanya.

Namun, Aryantha juga berharap pemerintah daerah bisa membantu sekaa bikin buku ini. Caranya, pemerintah membeli 300 eksemplar buku yang diterbitkan sekaa untuk disebarkan ke perpustakaan daerah, sekolah dan lembaga-lembaga lainnya.

Nah, bagaimana? Ada yang berminat? (0)
 
Copyright © gubuk sujaya. Designed by OddThemes